Menghormati dan menghargai orang lain

30 05 2009

Tema yang ana angkat ini masih ada hubungannya dengan postingan sebelumnya yaitu ikhlash, walaupun pada tema ini lebih condong terhadap akhlak kita terhadap sesama manusia. Alasan ana memilih topik ini yaitu sama seperti judul diatas, yaitu untuk mengharapkan adanya sikap “saling menghormati dan menghargai orang lain”. Bagi para thulab, yang usianya masih muda -yang ana termasuk didalamnya- maka selayaknya kita menghormati orang yang lebih tua umurnya dari kita, begitupun dengan orang yang usianya relatif tua, untuk menyayangi dan menghargai orang-orang yang lebih muda darinya.

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Salam bersabda, yang artinya: “Bukanlah termasuk golongan kami siapa saja yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dan mengenal hak orang ‘alim kita.” (HR Ahmad dan Hakim, dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 4319)

Dan orang yang paling pantas dihormati dan dihargai adalah orang yang paling banyak ilmu dan amal ibadahnya. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat beberapa kaum dengan kitab ini dan merendahkan yang lain.” [HR. Muslim, Dalam Kitab Shalat orang-orang musafir, bab 47, hadits no. 817 (Syarh an-Nawawi 3/346 )].

Orang yang memiliki akhlak ihtiram (menghormati orang lain) menghormati ilmu dan pemiliknya, dan termasuk penghormatan terhadap ulama yang dapat kita rasakan wibawanya. Al-Bukhari meriwayatkan sesungguhnya Hudzaifah rodhiyallohu ‘anhu menyampaikan hadits tentang fitnah, lalu para tabi’in ingin bertanya kepadanya, mereka berkata: “Karena wibawa Hudzaifah kami tidak mampu bertanya kepadanya…” (HR. Bukhori, hadits no 525 dan diriwayatkan oleh Ahmad 5./402 dan ini adalah lafazhnya)

Sungguh seperti inilah keadaan para sahabat bersama Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam, pada suatu ketika mereka ingin bertanya kepada beliau shollallohu ‘alaihi wa Salam tentang orang yang menepati janjinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, siapakah yang dimaksud dengannya dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang artinya:

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.” (QS. al-Ahzab :23)

Mereka berkata kepada arab badawi yang jahil, “Tanyakanlah kepada beliau shollallohu ‘alaihi wa Salam tentang orang yang menepati janjinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, siapakah dia? Rawi (yang meriwayatkan) berkata: ‘Mereka tidak berani menanyakannya, mereka menghormati dan membesarkan beliau shollallohu ‘alaihi wa Salam.’ (HR. Tirmidzi no. 2560/3433 dalam sunannya 3/91, (hasan shahih).

Dan di dalam hadits sujud sahwi, sesungguhnya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam shalat dua rekaat, bukan empat rekaat. Maka sebagian sahabat mengira bahwa shalat diqashar. Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu berkata: ‘Dalam jamaah adalah Abu Bakar rodhiyallohu ‘anhu dan Umar rodhiyallohu ‘anhu, keduanya merasa segan (untuk) mempertanyakannya…” (HR. Bukhari, hadits no. 6051 dan diriwayatkan oleh Ahmad 2/234 dan ini adalah lafazhnya)

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam pun mendorong mereka agar selalu bertanya, beliau -shollallohu ‘alaihi wa Salam- bersabda: ‘Bertanyalah kepadaku’ –namun mereka segan bertanya kepada beliau -shollallohu ‘alaihi wa Salam- [HR. Muslim, kitab iman, bab 1, hadits no. 7-10 (Syarh an-Nawawi 1/278)]. Maka Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Jibril alaihis salam dalam bentuk manusia untuk bertanya kepada beliau agar mereka belajar tentang agama mereka.

Hendaklah bertanya dengan pertanyaan yang tidak memberatkan ulama

Di antara tatakrama menghormati ulama adalah tidak berbicara bersama mereka dalam masalah-masalah yang langka. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam melarang dari ghuluthot. Al-Auza’i berkata: al-Ghuluthot adalah masalah-masalah yang berat dan susah (HR. Ahmad 5/435). Dan disebutkan dalam hadits yang shahih:

“Janganlah engkau menuntut ilmu (bertujuan, berniat) untuk mengalahkan para ulama atau membantah orang-orang bodoh dan jangan pula untuk berani di majelis. Maka barangsiapa yang melakukan hal itu maka api neraka, api neraka.” [Shahih al-Jami', hadits no 7370 (Shahih)]

Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang bertanya hanya untuk membantah atau untuk menguji, bukan untuk belajar. Maka sesungguhnya sifat umat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa Salam adalah menghormati dan membesarkan ilmu dan pemiliknya.

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dari kami serta tidak mengenal hak orang ‘alim dari kami.” [Shahih al-Jami', hadits no. 5443 (hasan)]

Sebagaimana wajib menghormati orang alim, penuntut ilmu juga berhak mendapat penghormatan. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dalam hadits utusan dari Bani Qais, sesungguhnya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam menempatkan mereka sebagai tamu kepada kaum Anshar: Maka tatkala di pagi hari, beliau bersabda, ‘Bagaimana kalian melihat penghormatan saudara-saudara kalian dan jamuan mereka terhadap kalian? Mereka menjawab, ‘Sebaik-baik saudara, mereka melembutkan tempat tidur kami dan membuat enak makanan kami, malam dan pagi hari mereka terus-menerus mengajarkan kepada kami Kitabullah (al-Qur`an) dan sunnah nabi kami.’ (Musnad Ahmad 3/432)

Dan yang lebih jelas dari itu, riwayat yang disebutkan dalam hadits Hasan, yang artinya:

‘Akan datang kepada kalian satu kaum yang menuntut ilmu. Maka bila kamu melihat mereka maka katakanlah kepada mereka: Selamat datang dengan wasiat/pesan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam, dan berikanlah fatwa kepada mereka.’ [Shahih al-Jami', hadits no. 3651 (hasan)]

Maka hendaklah para ulama memberi pesan kebaikan kepada para santrinya, sesungguhnya hal itu menambah penghormatan dan penghargaan para murid (santri) kepada para guru dan pendidik mereka.

Menghormati orang-orang shalih dari generasi terdahulu

Dan sesungguhnya yang sangat penting untuk diingat adalah menghormati orang-orang shalih dari generasi terdahulu. Maka di antara wasiat Umar rodhiyallohu ‘anhu sebelum wafatnya: ‘Saya berpesan kepada khalifah sesudahku agar berbuat baik kepada kaum Muhajirin generasi pertama, agar ia mengetahui hak mereka dan menjaga kehormatan mereka, dan aku berpesan agar berbuat baik kepada kalangan Anshar –orang orang yang telah menyiapkan rumah dan iman- agar menerima kebaikan mereka dan memaafkan kesalahan mereka.’ [HR.Bukhari, Kitab Jana`iz, bab 96, hadits no. 1392 (al-Fath 3/256)]. Maka mari kita maafkan kesalahan orang-orang yang telah mendahului kita di medan dakwah dan jihad, serta menjaga posisi mereka serta tidak melupakan keutamaan mereka.

Anas rodhiyallohu ‘anhu meriwayatkan, sesungguhnya Jarir bin Abdullah rodhiyallohu ‘anhu melayaninya –padahal usianya lebih tua darinya- karena Jarir rodhiyallohu ‘anhu ini tidak pernah melupakan penghormatan kaum Anshar kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam, ia berkata, yang artinya: ‘Aku tidak menemukan seorangpun dari kalangan Anshar kecuali aku memuliakannya.” [HR. Bukhari, kitab Jihad, bab 71, hadits no. 2888 (al-Fath 6/82).].

Dan Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan sesungguhnya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam bersabda di dalam khutbah, yang artinya:

“Sesungguhnya kaum Anshar adalah orang khusus bagiku yang aku kembali kepadanya, maka muliakanlah yang mulia dari mereka dan maafkanlah yang bersalah dari mereka.” [Musnad Ahmad 3/500]

Dan ketika generasi penerus dari umat ini terdidik untuk memuliakan generasi terdahulu dalam kebaikan dan lebih dahulu dalam melayani Islam, maka saat itu meratalah kebaikan di antara beberapa generasi.

Hendaknya para pemuda atau awwam, memuliakan orang yang lebih tua dan yang lebih ‘alim daripadanya dengan tidak mendahuluinya

Di antara gambaran penghormatan yang terpuji adalah yang muda memuliakan yang lebih tua usianya, atau lebih banyak keutamaannya dari padanya. Maka ada baiknya kita mengambil pelajaran kepada hadits berikut, yang artinya:

“…Kemudian beliau (Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa Salam) bertanya: Bulan apakah sekarang? Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Sejenak beliau terdiam sehingga kami mengira beliau akan menyebutnya dengan nama lain. Beliau berkata: Bukankah sekarang bulan Zulhijjah? Kami menjawab: Benar.” (HR. Muslim No.3179)

Begitupun dalam hadits berikut, yang artinya:

“Dulu kami pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya pada kami, ‘Beritahukan kepadaku tentang sebatang pohon yang menyerupai atau seperti seorang muslim, tidak pernah gugur daunnya, tidak demikian dan demikian, selalu berbuah sepanjang waktu.’

Waktu itu terbetik dalam benakku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tapi kulihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak menjawab apa pun sehingga aku pun merasa segan untuk menjawabnya. Tatkala para sahabat tidak juga mengatakan apa pun (dalam riwayat lain, para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?”) , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu pohon kurma.”

Ketika kami bubar, kukatakan kepada (ayahku) ‘Umar, “Wahai Ayah, sebetulnya tadi terlintas di benakku bahwa itu pohon kurma.”“Lalu apa yang membuatmu tidak menjawab?” tanya ayahku. “Aku melihat anda semua tidak berbicara, hingga aku merasa segan pula untuk menjawab atau mengatakan sesuatu,” jawab Ibnu ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Sungguh, kalau tadi engkau menjawab, itu lebih kusukai daripada aku memiliki ini dan itu!” (HR. Al-Bukhari no. 4698)

Lihatlah ya ikhwani wa akhwati fillah, adab dari seorang penuntut ilmu terhadap ulama yang lebih tinggi ilmunya. Lihat bagaimana para shahabat yang bahkan nama bulan yang telah pasti diketahui jawabannya, mereka segan dan tidak menjawab pertanyaan tersebut, melainkan tetap memberikan kesempatan terhadap rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk menjawab pertanyaannya.

Lalu, Berapa banyak dari kita yang begitu semangatnya dalam menuntut ilmu, malah mendahului dan terlebih lagi, berusaha mengalahkan yang lebih banyak ilmunya dari kita agar kita dipandang lebih berilmu. wallahul musta’an.

Disebutkan dalam hadits yang hasan, bahwa rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya:

“Apabila datang kepadamu yang mulia dari suatu kaum maka muliakanlah dia.” [Shahih Sunan Ibnu Majah 2/303, hadits no. 2991 (hasan).[Shahih Sunan Ibnu Majah 2/303, hadits no. 2991 (hasan)]

Berbuat baik terhadap orang yang pernah berbuat baik terhadap kita

Di antara kemuliaan orang yang beriman adalah menghormati orang yang telah berbuat baik kepadanya, sesungguhnya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam tidak melupakan jasa sebagian kaum musyrik yang punya peran dalam melindungi diri dan dakwahnya shollallohu ‘alaihi wa Salam. Bahkan, bangsa arab di masa jahiliyah mempunyai budi pekerti yang terpuji, yaitu menghormati orang yang berbuat baik kepada mereka.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari kaum musyrik yang bernama Urwah bin Mas’ud, tatkala Abu Bakar rodhiyallohu ‘anhu bersikap kasar kepadanya dalam perdamaian Hudaibiyah, ia tidak menjawab sedikitpun, karena Abu Bakar rodhiyallohu ‘anhu pernah berbuat baik kepadanya yang belum sempat dibalasnya. Karena itulah ia berkata: ‘Demi (Allah) yang diriku berada di tangan-Nya, kalau bukan karena jasamu terhadapku yang belum sempat kubalas niscaya aku menjawab ucapanmu.’ (Musnad Ahmad 4/324)

Dan di dalam hadits yang shahih:

“Barang siapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah.” [HR Ibnu Majah no 1468/1672 dalam sunannya 1/314]

Dan sekurang-kurang balasan yang mesti kamu berikan kepada yang berbuat baik kepadamu adalah menghormatinya.

Menghormati dan menghargai dengan sepantasnya

Setiap mukmin pastas mendapat penghormatan maka dia tidak boleh disuruh berdiri untuk menempatkan orang lain, wajib menjamunya, disyari’atkan musyawarah dengannya, menghadapinya dengan muka manis, dan memasukkan rasa senang di hatinya. Pada dasarnya manusia senang dihormati dan dimuliakan serta meminta kepada Rabb-nya agar memuliakannya. Disebutkan dalam doa Nabi shollallohu ‘alaihi wa Salam:

“Ya Allah, tambahlah kepada kami dan jangan Engkau kurangi, muliakanlah kami dan jangan Engkau hinakan, berikanlah kepada kami dan jangan Engkau tahan, dan utamakanlah kami dan jangan engkau sisihkan…” (Musnad Ahmad 1/34)

Tidak menghinakan saudara sesama muslim

Ketahuilah, sangat merugi suatu umat yang tidak bisa saling menghormati dan menghargai:

“Cukuplah seseorang menjadi jahat bahwa ia menghinakan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim no. 2564 dan Ahmad 3/491 dan ini adalah lafazhnya).

Dan dalam pendirian Abu Sufyan rodhiyallohu ‘anhu di masa jahiliyahnya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang jahil dan bagi mayoritas kaum muslimin dalam menghormati jiwa. Yaitu saat dia enggan memberikan kesaksian palsu di hadapan kaisar Hiraqlius dan rombongan yang menyertainya pada hak Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam. Dalam riwayat Ibnu Ishaq, ia menyebutkan alasan tersebut, ia berkata, ‘Demi Allah, jika aku berdusta niscaya mereka tidak menyanggah, akan tetapi saya adalah seorang pemuka yang enggan berdusta, dan aku mengetahui bahwa paling tidak –jika aku berdusta- mereka akan mengingat hal itu tentang diriku kemudian mereka membicarakannya, maka aku tidak berdusta.’ (Fathul Bari 1/35)

Dari pelajaran yang kita dapatkan diatas, maka ana mengajak diri ana serta pembaca yang membaca artikel ini untuk saling menghormati dan menghargai satu dengan lainnya, yang muda memuliakan yang tua dengan tidak mendahuluinya serta bersikap santun terhadapnya, sedangkan yang tua mencintai, menghormati dan menghargai yang lebih muda, dengan tidak merendahkan ilmu mereka yang mungkin melebihi ilmunya. Serta tetap menjalin hubungan baik diatara sesama, dengan tetap menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan mengetahui posisi dan kedudukan masing-masing.

Wallahu a’lam bish showwab

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya radiyallahu anhum ajmain dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Mu.

Melbourne, 05 Jumadil Akhir 1430 H
Yang senantiasa mengharapkan ampunan, rahmat dan ridho-Nya,
Abul Fudhail Dzulkifli bin Iwan Al-Ghorontaliy

Penulis Asli: Mahmud Muhammad al-Khazandar
Penerjemah: Muhammad Iqbal Ghazali
Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad
Judul Asli: MENGHORMATI ORANG LAIN (dengan beberapa perubahan dan penambahan)
Diunduh dari: Islamhouse,
www.islamhouse.com/d/files/id/ih_articles/single/id_menghormati_orang_lain.doc


Actions

Information

One response

25 06 2009
Menghormati Orang Lain « ADIKARA BLOG

[...] Menghormati dan menghargai orang lain [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: